Selamat Datang di Media Komunikasi Ikatan Silaturrahim Alumni Buntet Pesantren Cirebon (INSAN BPC) D.I.Yogyakarta

Hiper-Realitas Insan BPC

Senin, 06 Desember 2010

Oleh: Khoirul Anam

Pertanyaan awal saya dalam sebuah organisasi, khususnya organisasi alumni pesantren Insan BPC adalah, untuk apa? Atau ada apa? Bahkan mengapa? Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada seluruh pendiri Insan BPC yang didirikan delapan tahun silam, pertama kali saya di Jogja memang bukan langsung menapakkan kaki dan hati ke Insan BPC. Karena pada dasarnya ini adalah sebuah blunder saya yang tidak mengikuti kegiatan Anjangsono saat itu.


Saya akan memulai tulisan ini dengan ungkapan Insan BPC adalah sebuah komunitas pembelajar. Ya, mungkin sebagian teman-teman pernah mendengar tentang itu. komunitas pembelajar bisa dikatakan orang yang berkeinginan untuk belajar dari sesuatu yang kecil hingga yang besar. Di sinilah pernah dikatakan Abdurrahman (Ketua Insan BPC kedua, red) sesuatu yang kecil saat umur Insan BPC masih balita. Belajar, belajar, dan belajar. Dari sekecil apapun. Entah dalam arti yang sempit maupun yang luas.

Dengan ratusan organisasi yang ada di Yogyakarta, itu baru organisasi intra kampus, belum termasuk organisasi daerah atau pesantren, termasuk Insan BPC. Seyogianya ini bisa djadikan sebuah pacuan eksistensi sebuah organisasai alumni pesantren yang masih eksis di Yogyakarta. Bukankah semakin banyak persaingan semakin banyak juga kita bermawas diri. Tentu disini bukan berarti persaingan yang tidak sehat, tetapi persaingan yang menunjukkan bahwa Insan BPC mempunya kapabilitas yang tidak diragukan.

Itulah pertanyaan saya di atas, insan BPC adalah sebuah komunitas pembelajar yang diawali dengan rasa emosional pertalian kebangsaan dan persamaan nasib, atau diikat dengan rasa primordial yang kental dan rekonstruktif. Jadi, jangan anggap remeh Insan BPC yang diikat oleh semangat persamaan sejarah masa lampau (pernah di Buntet Pesantren) dan tentu ingin memberikan sebuah yang “berharga” buat almamater.

Bagi saya, tanpa mengurangi nada profokativ, organisasi adalah sebuah keharusan. Entah bagi mahasiswa baru atau yang “abadi”. Selain itu akan terlihat bagaimana seorang mahasiswa menghadapi realita yang ada di masyrakat kelak. Salah besar apabila ada pihak yang mengatakan kita dilarang berorganisasi. Itu sama saja membungkam sebuah kreatifitas seorang mahasiswa yang dikatakan sebagai agen of change.

Hemat penulis, semakin bertambah ruang gerak Insan BPC maka semakin pula angin kencang yang menerpa. Inilah PR bersama kita untuk membangun cita-cita yang tinggi bersama Insan BPC. Namun, disini kita harus menyadarai bagaimana sebuah kemungkinan-kemungkinan masa depan Insan BPC.

Menurut konsep Yasraf Amir Pialang, hiper-realitas mungkin akan terjadi. Hiper-realitas merupakan realitas artifisial yangtidak lagi berkaitan dengan realitas sebenarnya, referensi, sifat dasar, atau prinsip alamiahnya. Ia adalah realitas yang telah terdistorsi dari realitas awal yang menjadi model atau rujukannya. Hiper-realitas menciptakan sebuah kondisi yang dalam citra anggapannya sebagai ‘realitas’, yang semuanya dianggap sebagai kenyataan. Kepalsuan dianggap sebagai kebenaran, sehingga antara kebenaran dan kepalsuan, atau antara realitas citra tidak atau kecil kemungkinan untuk dipisahkan.

Hiper-realitas Insan BPC, yang juga berarti semiotika organisasi Insan BPC. Realitas Insan BPC yang dibangun oleh sekelompok orang untuk menciptakan Insan BPC agar tidak sepadan atau sesuai dengan realitasnya, itulah wacana besar mendatang. Dengan demikian Insan BPC perlu adanya sebuah kontemplasi agar sesuai dengan realitas. Jika Insan BPC adalah sebuah organisasi pesantren yang memayungi anggotanya dengan penuh kedamaian, keterbukaan, dan toleransi. Maka realitas-realitas yang timbul selain itu adalah realitas artifisial yang dibuat untuk mencitrakan Insan BPC agar tidak kembali damai, terbuka, dan toleransi.

Pembersihan realitas artifisial ini bukanlah pekerjaan yang mudah, karena juga menyangkut determinasi unsure-unsur yang berada di luar Insan BPC. Inilah jawaban pertanyaan penulis yang kedua. Selanjutnya akan dibawa kemana? Eksklusifkah atau inklusifkah? Jika eksklusif maka Insan BPC menjadi realitas artifisial, dan jika inklusif maka Insan BPC menjadi realitas sejati.

Kemudian, pertanyaan saya terakhir, mengapa? Karena memang kita disatukan bukan semata hubungan emosional, tetapi sebuah gerakan sistematis, sebuah gerakan komunitas pembelajar. Dan hendaknya dikembalikan pada realitas sejati dan bukan realitas artifisial yang menjadi hiper-realitas. Wallahu A’lamu Bisshowaab …

* mantan ketua Insan BPC periode 2009
Materi ini disajikan dalam Makrab 2010 “Insan’s Metamorfosa Day”
di Parangtritis, 4 Desember 2010



1 komentar:

GnD Studio mengatakan...

Assalamualaikum wr wb.
Tanpa mengurangi rasa hormat pada rekan-rekan sekalian.
Saya ingin mengkonfirmasi cerpen yang berjudul
" Matahari Di kolong Jembatan " yang terdapat di blog ini yang tertulis karya " Anam Ak "
merupakan cerpen yang menjiplak karya saya,
dengan Judul asli " Matahari Di Kolong Comberan "
cerpen ini dimuat di majalah Horison rubrik Kaki Langit. saya bisa menunjukkan bukti naskah asli dan naskah yang diterbitkan majalah Horison.
Bahwa cerpen ini karya saya M.Gempur . SP
Mohon di konfirmasi. Sebuah karya berasal dari hati , Tolong Hargai.

Salam Sastra , M.Gempur.SP

Poskan Komentar