Seorang pengurus organisasi – walaupun bisa dikatakan ia tergolong ‘pengurus dadakan’ atau ‘terpaksa jadi pengurus’ – memerlukan kreativitas. Seorang pengurus Insan BPC pertama memang perlu mengenal organisasinya sendiri, seperti contoh pembahasan sebelumnya pada Insani’s Diary Jilid 2 yang berjudul Langkahkan Pikiran dan Hati, untuk mengetahui kegiatan yang patut jadi APA yang dapat dikenali. Setelah mengenal organisasinya, seorang pengurus perlu kreatif menggunakan pemahamannya.
Bagaimana Kupas Kreatifitas itu? Apakah dengan duduk melamun di bawah pohon rindang? Atau masuk ke tempat yang sunyi (toilet, red) dan bersemedi di sana? Atau dengan cara sederhana berdiskusi sembari ngopi di kedai yang lumayan terjangkau tempat dan harganya?
Kreativitas tidak sama dengan melamun. Kreativitas dapat muncul dari kehidupan sehari-hari di bidang yang sedang kita tekuni. Kalau kita mau mengenali Insan BPC, maka kita harus ‘masuk’ atau ‘terjun’ ke dalamnya. Lihatlah sekeliling, apakah ada kejadian, fakta, huru-hara (becanda) yang berkaitan dengan ‘Pendidikan dan Pengkaderan Anggota yang Menggunakan Obrolan Santai‘? Lihat warung burjo, angkringan, kedai kopi. Lihat baik-baik, simak baik-baik, pasang mata, pasang telinga. Itulah tandanya orang yang kreatif.
Kreativitas ini juga sangat membumi, sebab berdasarkan pengamatan tentang keadaan sesungguhnya. Secara formal-prosedural, pengamatan ini dikenal dengan istilah ‘pengamatan pendahuluan‘. Pengamatan ini juga akan membantu kita menghubungkan ‘ide’ atau ‘teori’ dengan kenyataan di kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, setelah mengamati sebuah warung kedai, kita menemukan topik ini: Malam keakraban dalam rangka pengkaderan anggota baru Insan BPC melalui obrolan santai. Semua unsur dalam kekeluargaan terpenuhi. Ada soal pengenalan, ada soal anggota, ada soal pengkaderan (interaksi) antara kader lama dan anggota baru, serta ada diskusi pengenalan (melalui obrolan santai).
Nah,.. ini namanya kreatif. Kalau acaranya di sekitar kost anggota baru, itu namanya strategis. Biaya murah, pengurus tidak susah repot-repot menjemput bola, kader baru bisa diraih, habis itu bisa menjadi penerus atau dilantik untuk pengurus berikutnya. Siip.. kan..
Tetapi jangan buru-buru dulu, karena kita harus menggunakan KSPM. Apaan, tuh? Kenali Sejarah, Pahami Masalah
Apaan, tuh? Tunggu jejak berikutnya
Nologaten, 6 April 2010
Munharis
Penulis adalah Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta


0 komentar:
Poskan Komentar