Selamat Datang di Media Komunikasi Ikatan Silaturrahim Alumni Buntet Pesantren Cirebon (INSAN BPC) D.I.Yogyakarta

Perubahan: Revolusi atau Evolusi ?

Kamis, 22 Januari 2009

Kata “perubahan” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia akar katanya adalah “ubah.” Sedangkan “perubahan” adalah bentuk nomina yang berarti hal atau keadaan berubah, peralihan, dan pertukaran. Singkatnya, perubahan adalah peralihan/pertukaran dari satu fase ke fase lainnya.

Kata “perubahan” mempunyai padanan dengan kata “change” yang berarti leave one place and go to, enter another. Arti tersebut adalah bentuk verbal, sedangkan bentuk nominanya berarti changed or different condition (sebuah kondisi yang berbeda, yang tentu saja berbeda dari kondisi sebelumnya).

Masih dalam konteks bahasa Inggris, ada dua kata yang hampir sama, atau menyipati kata change di atas, yakni kata revolution dan evolution. Revolution berarti a complete change, sedangkan evolution berarti process of opening out or developing. Dalam bahasa Indonesia, kata “revolusi” berarti
(1) “perubahan ketatanegaraan (pemerintah atau keadaan sosial) yang dilakukan dengan kekerasan;
(2) perubahan yang cukup mendasar di suatu bidang;
(3) peredaran bumi dan planet-planet lain dalam mengelilingi bumi.”


Saya akan memilih arti yang kedua karena lebih sesuai dengan arti dalam bahasa Inggris. Adapun kata “evolusi” berarti “perubahan (pertumbuhan, perkembangan) secara berangsur-angsur atau perlahan-lahan.” Arti ini saya gunakan semua karena juga hampir sesuai dengan arti dalam kata bahasa Inggris. Singkatnya, revolusi adalah perubahan secara menyeluruh dan dengan cepat, sedangkan evolusi adalah perubahan yang berangsur-angsur yang mengarah pada sebuah pertumbuhan atau perkembangan. Saya tidak tahu apakah ada intevensi politik dalam pembuatan kamus Bahasa Indonesia itu, sebab ada unsur kekerasan dan perlawanan senjata dalam kata “revolusi.”

Bicara tentang perubahan adalah bicara tentang kehidupan itu sendiri. Sebab hakikat kehidupan adalah perubahan. Hanya Tuhan, matahari yang terbit di Timur dan terbenam di Barat, serta bulan yang muncul di Barat dan tenggelam di Timur yang tidak berubah, selebihnya manusia, hewan, dan tanaman terus berubah. Iklim pun berubah. Saya ingat dulu, ketika saya kecil, musim mudah sekali untuk diterka, tapi kini susah. Bukan lagi hati manusia yang susah diterka, musim pun juga ikut serta. Baru saja juga, kita rayakan perubahan, yakni perubahan tahun, dari tahun yang lama (2008) ke tahun yang baru (2009). Perubahan ini adalah evolusi, sebab berubahnya berangsur-angsur, dari hari ke hari, dari minggu ke minggu, dari bulan ke bulan, dan hingga akhirnya mencapai satu tahun. Perubahan tahun yang bersifat revolusi tentu hanya ada dalam dongeng atau mungkin dalam sinetron lorong waktu. Tapi itu bukan berarti tidak mungkin.

Dalam teori perubahan sosial, kata revolusi dan evolusi menjadi kosa kata yang penting untuk menjelaskan proses perubahan sosial atau masyarakat. Kata proses saya garis tebal untuk menunjukkan bahwa revolusi dan evolusi hanya terkait dengan proses perubahan itu sendiri, belum pada hasil yang ingin dicapai dalam perubahan itu. Dalam sejarah nasional, ada istilah “revolusi fisik” yang menunjuk pada perjuangan untuk sebuah perubahan secara cepat dan menyeluruh, yakni kemerdekaan. Selanjutnya dalam sejarah Indonesia modern, ada fase peralihan secara cepat, yakni dari orde baru ke orde reformasi. Ini pun juga sebetulnya bisa disebut dengan revolusi, meskipun bukan sebuah revolusi fisik. Boleh jadi, jawaban dari banyak pertanyaan yang menggugat reformasi yang tak kunjung memberikan angin kesejahteraan bagi rakyat Indonesia adalah karena sifat perubahannya adalah revolusioner, bukan evolusioner. Jika yang pertama semuanya serba reaksioner dan spontanitas, maka yang kedua lebih pada perubahan yang didasarkan pada perencanaan yang matang dan sistematis, bertahap dan berkembang. Namun, jika demikian jawabannya, maka boleh jadi tidak ada yang namanya orde reformasi ini. Apa mungkin perubahan yang revolusiner juga perlu dibarengi dengan perubahan yang evolusioner ?

Memang perubahan tidak selamanya mendatangkan hal yang positif, namun apa dengan tidak berubah akan mendapatkan hal positif pula sementara tantangan semakin mendesak? Ini memang dilematis. Karena itu, dalam teori perubahan sosial tadi, ada istilah perubahan yang bersifat progressif dan ada yang berifat regresif. Perubahan yang pertama menunjuk pada perubahan yang menuju ke arah positif atau perubahan yang menuju kemajuan, sedangkan yang kedua perubahan yang menuju kemunduran.

Lalu kita dapat bertanya apakah perubahan dari tahun ke tahun sudah menuju arah yang lebih baik atau tidak? Apakah perubahan dari satu pemerintahan ke pemerintahan lain menjanjikan perbaikan? Lebih jauh, apakah Pemilu April 2009 nanti dapat memberikan perubahan yang lebih baik bagi kesejahteraan rakyat? Nabi Muhammad pernah bersabda, orang yang beruntung adalah orang yang hari besok lebih baik daripada hari ini. Bisakah kita mengikuti sabda tersebut, akankah rakyat untung dengan perubahan-perubahan dalam penyelenggaraan Pemilu dan pemerintahan, atau malah sebaliknya rakyat semakin menjadi buntung? Kalau tidak bisa dengan cara evolusi, maka apa boleh buat cara revolusi harus kita gerakan lagi.

Agus Iswanto, Alumnus Buntet Pesantren.
Tulisan ini diambil dari Buletin INSAN edisi Januari 2009


0 komentar:

Poskan Komentar