Mari menulis lagi….. Lama tidak menulis Apa kabar lembaran-lembaran buku? Apakabar tombol-tombol keyboard? Bagaimana dengan imajinasi? Ide yang berserak-serak Atau rintihan kekecewaan yang mendalam Semua sudah terkumpul? Terkumpul semua Tapi aku entah apa yang kutulis Tak mengerti….
Maguwo, 7/6/09
“Barangsiapa yang keluar dari rumahnya dengan maksud untuk berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, lalu kematian menjemputnya, maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah…” (QS An-Nisa (4): 100)
Ayat di atas, biasanya dikaitkan dengan peristiwa hijrah para sahabat Nabi Muhammad dari Makkah menuju Madinah. Atau secara harfiah orang yang berhijrah meninggalkan rumahnya dalam rangka berjuang di jalan Allah dan Rasul-Nya.
Namun, sesungguhnya kita bisa artikan kata “rumah” sebagai “diri,”, “egoisme,” atau “keakuan” kita. Sehingga kita akan mendapatkan pahala, yakni kebahagian hidup di sisi Allah, jika kita meninggalkan egoisme diri kita untuk menuju pada ridha Allah SWT dan Rasulullah saw.
Seringkali kita selalu berpikir akan kepentingan dan kesenangan pribadi semata. Hingga kita beribadah, itu pun dilakukan dalam konteks kepentingan diri kita. Kita bersedekah untuk menolak bencana demi keselamatan diri kita. Kita menunaikan shalat agar terhindar dari neraka dan mengharapkan pahala. Kita sering beribadah seperti seorang pedagang yang selalu mencari keuntungan. Ini adalah cermin sifat egois diri kita.
Al-Qur’an menyebut orang yang beribadah kepada Allah, tapi ia tidak meninggalkan dirinya karena terlalu cinta dengan dirinya, sebagai orang yang telah mengambil Tuhan lain selain Allah (al-Baqarah (2): 165).
Dalam kehidupan sosial pun kita sulit sekali melepaskan kekangan ego diri kita. Semuanya mau dilakukan hanya jika mendatangkan keuntungan diri kita. Kita tidak mau berkorban untuk orang lain. Padahal sifat berkorban adalah sifat yang telah dicontohkan dalam semua perjuangan para nabi.
Orang yang berbahagia adalah orang yang mampu meninggalkan sifat egonya. Dia beribadah semata-mata hanya karena Allah, sebagai bentuk rasa syukur atas karunia dan rahmat yang telah Allah anugerahkan. Jika ia memberi pun bukan pula demi kepentingan dirinya, seperti agar dipuji orang, tetapi demi rasa terima kasih atas nikmat yang telah Allah berikan juga.
Dengan meninggalkan sifat keakuan, berarti kita telah membersihkan diri kita (tazzaka), karena semua yang dikerjakan hanya untuk ridha Allah SWT semata. Bukan demi kedudukan, jabatan, sanjungan, atau harta dunia yang semu.
Bila diri kita sudah bersih dari sifat ego, hati kita menjadi tenang, dan Allah SWT akan meridhai kita ketika kembali menghadap-Nya.
Kos dan pondok pesantren ini adalah dua tempat yang kontradiktif dalam pandangan umum. Bagi kalangan pesantren, kos adalah momok yang sebisa mungkin dihindari, mengapa? Kos yang dimaksud adalah suatu tempat (rumah / kamar) sewa , namun biasanya jika rumah sewa disebut kontrakan, sehingga predikat kos hanya untuk kamar sewa. Sebagaimana diketahui bersama bahwa kos merupakan tempat yang tidak ada aturan dan ketentuan seperti pondok pesantren. Di dalam kos hanya ada aturan jam bertamu dan waktu yang mengharuskan anak kos berada di kos, selain dua aturan tersebut anak kos terbebas dari aturan yang lain karena ibu kos sudah mempercayakan segala sesuatu (yang berhubungan dengan mereka) kepada masing-masing anak kos. Dengan demikian tanggung jawab atas diri anak kos terletak di tangan anak kos itu sendiri, akan tetapi tidak semua kos demikian, karena ibu kos berada bersama anak kos maka pengawasan dan perhatian tetap dipegang ibu kos.
Kebebasan yang ada di kos kemudian dijadikan kambing hitam dan kesempatan, terutama aspek pergaulan. Sebagian orang menganggap kebebasan di kos adalah kebebasan untuk bergaul bebas dan "lari" dari aturan-aturan formal, dan sebagian lain memandang kebebasan di kos merupakan kesempatan untuk bisa mencari jati dirinya dan mengekspresikan dirinya dengan dunia luar. Dan dengan tanpa aturan formal mereka dapat menilai siapa diri mereka. Kos yang tidak ada aturan mendapat sorotan yang tajam dari masyarakat, mayoritas masyarakat menilai rendah terhadap kos karena kebebasan dan bukan merupakan tempat menuntut ilmu agama sebagaimana pondok pesantren. Dan fenomena yang terjadi di kos sebagian orang yang belum memiliki ataupun memiliki pegangan yang kokoh terkadang bisa terjebak dalam pergaulan yang kurang baik. Fenomena inilah kemudian banyak orang berargumen bahwa kos adalah tempat yang tidak baik. Pandangan miring (negative) ini disepakati dan diterima oleh umum dan tak terkecuali orang-orang pesantren. Adapun aktivitas anak kos yang paling mendapat sorotan adalah keluar malam, bergaul dengan lawan jenis dengan bebas dan berpakian ketat dan tansparan.
Berbeda dengan pondok pesantren, tempat ini dimuliakan dan diagung-agungkan oleh semua orang dan hamper tak ada yang berani membuka aib (kejelekan) pondok pesantren, mengapa demikian? Tentu saja semua orang percaya bahwa pondok pesantren adalah temapat yang mulia, karena pondok pesantren merupakan tempat menuntut ilmu agama dan tempat para tokoh agama dilahirkan. Di dalam pondok pesantren selain mendapatkan ilmu agama merekapun dididik dan diajarkan untuk bersikap hidup qana'ah , wara' dan bersosial. Kapasitas santri di dalam pondok pesantren jauh lebih banyak dari pada kos, satu kamar kadang berjumlah dua puluh atau sepuluh, berbeda dengan kos yang biasanya satu kamar hanya untuk satu orang atau dua orang saja. Meskipun demikian, jumlah yang banyak justru lebih baik, dengan begitu santri dituntut agar lebih mampu menjaga toleransi, dan menepis perbedaan-perbedaan yang ada pada masing-masing santri, misalnya perbedaan daerah, bahasa, karakter dan sebagainya.
Dengan kondisi dan esensi yang berbeda antara kos dan pondok pesantren, tentunya ini akan mengefek terhadap predikat baik tempat maupun penghuninya. Pondok pesantren dengan segala kondisi dan esensinya dianggap bernilai baik sehingga santrinya pun akan terbawa-bawa menjadi baik, begitu juga sebaliknya dengan kos yang sudah dianggap negative maka anak kos pun akan menjadi negative. Hal ini, sungguh bukan suatu keadilan bagi kos dan anak kosnya, karena anggapan-anggapan global (secara umum) tersebut. Sekarang yang menjadi pertanyaan, siapakah yang berani menjamin seratus persen santri itu baik dan anak kos itu buruk? Percayakah jika santri ternyata pecandu obat-obatan terlarang seperti narkotika? Yakinkah jika ternyata santri ada yang hamil di luar nikah? Na'udzubillahi min dzalik. Dan percayakah jika ternyata anak kos adalah seorang 'ulama? Semua ini adalah kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi, karena tempat baik kos maupun pondok pesantren tidaklah seratus persen menjamin akan semua penghuninya mendapat predikat yang sama dengan tempat itu sendiri.
Kos dan pondok pesantren adalah hanya symbol untuk sebuah tempat atau bahasa untuk nama tempat. Bahasa adalah merupakan system symbol yang memiliki makna, merupakan alat komunikasi manusia, penuangan emosi manusia serta merupakan saran pengejawantahn pikiran manusia dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam mencari hakikat kebenaran dalam hidupnya . Adapun ciri-ciri bahasa diantaranya : Konvensional, arbitrer (suka-suka) dan lain-lain. Bersifat arbitrer maksudnya tidak ada hubungan wajib antara lambang sebagai hal yang menandai yang berwujud kata atau leksem dengan benda atau konsep yang ditandai, yaitu refen dari kata tersebut . Nah, seperti halnya kata Kos, kos adalah tempat sewa mengapa tidak dinamakan pondok pesantren atau hotel atau yang lainnya, begitu juga sebaliknya kata pondok pesantren. Dengan demikian kita tahu bahwa sebenarnya tempat dengan segala kondisinya tidaklah bermakna jelek atau buruk, itu hanyalah penamaan arbitrer, sehingga janganlah memandang sinis terhadap suatu tempat terutama kos yang selama ini masih dianggap momok oleh suatu kelompok. Baik-buruknya suatu tempat hanya tergantung oleh penghuninya, jikalau anak kos menjadikan kos sebagai tempat mengaji atau diskusi ilmiah, apakah kos akan tetap mendapat predikat negative?dan begitu juga sebaliknya seandainya pondok pesantren sudah keluar jalur artinya hanya dijadikan sebagai tempat nge-gosip, ajang perselisihan, perbaikan nama baik dan status, penekanan dan mungkin pemaksaan serta penindasan, apakah pondok pesantren pun akan tetap berpredikat baik? Jawabannya ada dalam diri anda.
Deskriminasi terhadap tempat khususnya kos dan pondok pesantren ini agar tidak terjadi, perlu adanya pandangan atau persepsi yang luas sehingga tidak ada pemahaman yang sempit dan pandangan sinis terhadap suatu kelompok dan pemuliaan terhadap kelompok lain. Manusia adalah makhluk yang lemah dan dinamis, perubahan-perubahan terhadap dirinya akan selalu terjadi, maka apakah kita juga bijak dan adil berkata anak kos adalah tidak baik?sehingga apakah kita hanya akan memilih dan mempercayai seorang santri selalu baik meskipun mereka hanya numpang tidur, atau kata guruku, maaf, numpang buang air besar doang di pondok pesantren?, karena predikat pondok pesantrennya baik. Dunia ini penuh dengan kemungkinan-kemungkinan, untuk itu, kita harus bersikap bijaksana dan jangan merasa baik karena kemungkinan yang belum terjadi mungkin akan dan bisa terjadi.
Manusia adalah tubuh dan jiwa Manusia tersusun dari adanya tubuh yang kasar dan roh atau jiwa yang halus. Dengan tubuhnya ia dapat bergerak dan merasakan sesuatu. Dengan rohnya ia dapat mencapai sesuatau, mengingat-ingat, berfikir, mengenal, berkehendak, memilih, mencintai, dan membenci. Masing-masing dari tubuh dan jiwa itu memiliki penegak dan kegemaran. Penegak serta kegemaran tubuh ialah makan dan minum, dan segala macam syahwat materi serta kelezatan-kelezatan yang dapat dirasakannya. Penegak serta kegemaran jiwa ialah keimanan kepada Alllah swt, memiliki sifat-sifat keutamaan yang dengannya itu dapatlah manusia tadi mencapai suatu keutamaan yang dengannya itu dapatlah manusia tadi mencapai suatu tingkat yang setinggi-tingginya keluhuran budi dan kesempurnaan pendidikan.
Dengan adanya roh itulah manusia dapat dibedakan dari makhluk-makhluk yang lain di alam semesta ini.Bahkan dengan adanya roh itu juga Allah memerintahkan para malaikat untuk memberikan penghormatan kepada manusia yaitu Adam, dengannya pula Allah menundukkan seluruh isi langit dan bumi ini untuk manusia itu dan dengannya pula manusia dijadikan pemimpin di alam ini sebagai khalifah-Nya di atas bumi.
Dalam hal ini Allah berfirman :
“Benar-benar kami telah memuliakan keturunan Adam dan kami naikkan mereka di kendaran darat dan lautan. Kami limpahkan pula rezeki rezeki yang baik-baik kepada mereka itu, serta kami utamakan mereka itu melebihi sebagian besar makhluk yang telah kami ciptakan” (Al-Isra’ : 70)
Wasilah Ilmu Manusia di waktu pertama kali lahir dan menampakkan diri di alam semesta ini, sama sekali kosong dari ilmu pengetahuan. Sekalipun ia telah memiliki atau dibekali persiapan, kesanggupan atau alat yang digunakan untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Allah berfirman dalam surat An-Nahl ayat 78 yang artinya, Allah mengeluarkan kamu dari kandungan ibumu, sedang kamu sama sekali tidak mengenal sesuatu apapun, tetapi Allah telah membuatkan (memberikan) pendengaran, penglihatan, dan hati padamu, agar kamu bersyukur.
Pendengaran, penglihatan, dan akal merupakan alat yang dengannya itu pula manusia dapat mencari ilmu pengetahuan. Alat-alat itulah manusia dapat menjenguk ke alam luar yang maha luas ini untuk menegetahui rahasia-rahasianya, memikirkan keadaan-keadaannya dan mengambil kemanfaatan-kemanfaatan yang dikaruniakan oelh Allah swt berupa segala macam kenikmatan dan keberkahan yang tiada terhingga. Manusia yang dapat menggunakan alat-alat itu, untuk memperoleh kemanfaatan itulah orang yang disebut manusia bijaksana, sedang bagi mereka yang tidak dapat menggunakan alat-alat itu dapatlah dikatakan ia telah terlepas dari nama manusia atau dengan kata lain dapat digolongkan dalam lingkungan bangsa hewan, sebab telah kehilangan penegak kepribadiannya sendiri yakni ilmu pengetahuan. Dan sebab-sebab untuk memperoleh pengetahuan dengan jalan ; (a) membaca (b) memikirkan alam semesta (c) melihat – lihat apa – apa yang ada di bumi.
Ketiga sebab inilah yang banyak memberikan pelajaran kepada manusia itu sehingga ia dapat memperoleh ilmu yang sholih, yang benar, serta pengetahuan yang bermanfaat.
* Penulis adalah santri asal cirebon dan mahasiswa Sosiologi UGM,
Geliat kantuk mengutuk senja buram tanpa secangkir kopi kental Di bebalakang, belalang-belalang menghardikku tanpa sesal Kemari sobat, kemarikan sujudmu di bawah naungan akal
Terserah apa kata, apa karena...
Biarkan air panasi dinginnya hati Lalu cair, lalu mencair separuh ke-aku-an
Terserah mereka terka, mereka rasa...
Udara memanas di awal pagi yang susah aku nikamati tiga hari ini Sedikit distorsi, sedikit chaos kubuka halaman pertama tutup saji Meng-imaji, melahirkan benih-benih asa indah di beranda mimpi
Terserah kemana langkah, kemana goyah
Belatung –belatung terlihat indah tapi tetap menjijikkan Asumsi gaduh bergemuruh menyentak sendi-sendi keyakinan Membunuh atau dibunuh dalam naluri kemanusiaan
Terserah pecah membelah, pecah mengalah
“kita sering terlalu yakin, terlalu percaya diri, hingga tak sadar kita menafikanNya” Tapi kita juga sering terlalu takut , pesimis, hingga tak sadar kita melupakan-Nya Satya untuk semesta